kisah tamat film doraemon

| Rabu, 14 November 2012

kisah tamat film doraemon

JUMAT (4/5) kemarin, di toko buku, saya menemukan komik baru Doraemon, “45 Opening Works of Doraemon vol.1”. Apa istimewanya komik Doraemon yang ini?

Seperti ditulis di pungggung bukunya, komik Doraemon Opening Works merupakan kumpulan cerita bab-bab awal yang ada di komik Doraemon vol.1-45. Jadi, komik ini mengumpulkan cerita-cerita bab pertama dari setiap edisi komik Doraemon yang jumlahnya 45 edisi. Jilid pertama mengumpulkan karya pembuka dari edisi 1-23, jilid kedua mengumpulkan karya pembuka edisi 24-45.
Pendek kata, ketimbang mengumpulkan seluruh jilid lengkap berjumlah 45 edisi, kita bisa membaca perkembangan kisah Doraemon cukup dalam 2 jilid saja.
Tapi bukan soal komik Doraemon Opening Works yang hendak saya omongkan.
Membuka-buka lembaran komik itu, saya seperti naik mesin waktu di meja belajar Nobita mengingat-ingat lagi bagaimana saya kenal Doraemon dulu. Seperti semua orang Indonesia lainnya, saya mengenal Doraemon lewat serialnya yang tayang di RCTI. Kemudian saya ikut membaca komik terjemahannya dari seorang teman di masa SMP.  
Dari tahun 1990 sampai sekarang, Doraemon selalu ada entah di layar TV (sebagai  serial anime maupun film lepas), maupun komik-komiknya yang selalu terbit dalam berbagai varian dan kisah. Ada yang kumpulan cerita, satu kisah petualangan, sampai edisi belajar bareng Doraemon.
Saya lantas bertanya-tanya, seperti apa akhir kisah Doraemon. Dari telusuran di dunia maya dan membaca-baca komik Doraemon berikut biografi penciptanya, Fujiko F. Fujio saya menemukan cerita seru bagaimana akhir kisah Doraemon.
***
November 1969. Fujimoto Hiroshi, nama asli Fujiko F. Fujio, membuat pengumuman komik bersambung terbarunya di majalah anak-anak untuk kelas 4 SD. Waktu itu belum disebutkan apa komiknya maupun tokoh utamanya. Fujimoto saat itu memang belum menemukan ide bagaimana dan seperti apa komiknya. Jalan-jalan di taman ia tak menemukan ide. Sampai di rumah ia teringat dengan kucing liar yang pernah tinggal dengannya.Tapi idenya belum keluar. Ia lalu bermalas-malasan di sofa. Ia ketiduran. Lalu bangun dengan kaget, tersandung mainan.
Seketika ide itu muncul: kucing, anak laki-laki pemalas, dan mainan. “Ketemu!” katanya, “sepertinya ini bisa.” Doraemon kemudian muncul dengan ide dasar begini: seorang bocah pemalas kedatangan robot kucing dari masa depan yang bisa mengeluarkan benda-benda berguna dari kantungnya.
Doraemon lahir lewat majalah “Anak Baik”, “TK”, “SD kelas 1” s.d. “SD kelas 4” terbit Desember 1969 untuk edisi Januari 1970, volume 1. Serial komik Doraemon kemudian terbit terus-menerus sebanyak 1.344 yang kemudian dibukukan menjadi 45 jilid. Selain serial komiknya, Doraemon telah menjadi serial anime maupun film layar lebar yang sukses.
Syahdan, pada 23 September 1996, di usia 62 tahun, Fujimoto Hiroshi meninggal dunia. Sejak 1986, Fujimoto didiagnosis menderita kanker hati.
Apa dengan meninggalnya sang pengarang kisah Doraemon berakhir juga?
Perlu diketahui Fujimoto meninggal tanpa sempat menceritakan akhir kisah Doraemon. Namun, sejatinya, sejak awal membuat cerita Doraemon ia sudah mengisahkan akhir kisahnya. Anda tentu ingat, sejak awal kedatangan Doraemon dari masa depan untuk mengubah nasib Nobita. Cucunya di masa depan, Sewashi mengirim Doraemon untuk membantu Nobita mengatasi masalahnya sehari-hari agar kelak bisa jadi anak pintar dan sukses.  Kita juga tahu Nobita kelak bakal menikah engan Shizuka (walau tadinya dibilang bakal menikah dengan Jaiko, adik Giant).
Ya, kita sudah tahu garis besar kisah hidup Nobita. Tapi kita tetap penasaran bagaimana persisnya kisah Doraemon tamat.
Menelusuri dunia maya, ada beragam versi akhir kisah Doraemon. Cukup mengetik “Doraemon tamat” di mesin pencari, Anda bakal menemukan beragam postingan blog yang menceritakan akhir kisah Doraemon dalam bahasa indonesia—yang umumnya setiap posting sama hingga susah dicari siapa yang pertama membuat posting aslinya.
Saya tak hendak mengisahkan ulang isi posting yang bertebaran di blog. Yang hendak saya ceritakan sebuah kisah yang menjadi berita di koran-koran Jepang pada 2006 silam.
Syahdan, pada 2005, seperti pernah dimuat koran Yomiuri Shimbun (saya membaca terjemahan Inggrisnya yang dimuat situs koran Thailand), seorang komikus berusia 37 tahun membuat heboh Jepang dengan melukiskan akhir kisah Doraemon. Komiknya yang dimuat di majalah fanzine (majalah bikinan fans) laris manis. Yang membuat masalah, komik itu tak mendapat izin dari pemilik hak cipta Doraemon.
Di jagat manga, komik macam begini hal lumrah. Seorang fans sah-sah saja membuat komik tiruan atawa parodi dari kisah asli yang terkenal. Komik tiruan ini memiliki karakter yang sama meski ceritanya beda, dan bisa melenceng. Komik jenis ini malah punya sebutan khusus: doujinshi.
Lantas, mengapa doujinshi akhir kisah Doraemon ini bikin heboh?
Dalam akhir Doraemon versinya diceritakan, Nobita datang mengadu pada Doraemon. Tapi, Doraemon tak merespons. Dari adiknya, Dorami, diketahui batere Doraemon habis. Tapi masalahnya, jika baterenya diganti, Doraemon bakal hilang ingatan dan melupakan Nobita begitu bangun.
Dari situ, Nobita bertekad untuk menjadi anak pintar agar kelak bisa memperbaiki Doraemon. Di masa depan, saat sudah menjadi ilmuan, beristrikan Shizuka, Nobita membangunkan lagi Doraemon dari mimpi panjangnya. Diketahui pula, Nobita lah yang menciptakan robot Doraemon. Oleh Dekisugi, yang menjadi presiden Jepang, hal ini disebutnya “Time Paradox”.
Masalahnya, doujinshi akhir kisah Doraemon yang dibuat oleh seseorang bernama samaran Yasue T.Tajima ini mirip betul dengan komik Doraemon bikinan Fujiko F. Fujio. Komiknya dijual seharga 500 yen di toko buku dan sudah dipamerkan di berbagai pameran fanzine sejak Oktober 2005.
Komik akhir kisah Doraemon itu terjual lebih dari 13 ribu copy dan menjadi populer di dunia maya karena narasi dan goresan gambarnya mirip betul komik Doraemon asli. Bahkan, tak sedikit yang mengira komik itu asli bikinan Fujiko F. Fujio. (Begitu juga di berbagai postingan blog yang saya temukan. Entah siapa sudah menerjemahkan komik itu ke dalam bahasa Indonesia dan mengunggah manga-scannya ke internet. Banyak yang mengira itu komik Doraemon asli.)
Di Jepang, soal doujinshi Doraemon ini memicu perdebatan batasan sampai di mana sebuah doujinshi alias komik tiruan ditolerir dan tidak melanggar hak cipta. 
Penerbit Shogakukan dan Fujio F. Fujiko Production yang memegang lisensi Doraemon kemudian mengirim surat peringatan pada pembuat doujinshi akhir kisah Doraemon. Selain diminta mengaku telah membuat plagiarisme, pembuatnya juga diminta membayar sebagian hasil penjualan dari komik fanzine-nya.  
Pemilik hak cipta Doraemon sangat berkepentingan atas nasib tokoh ciptaannya. Sebab, sudah sejak awal pengarangnya tak membuat tamat kisahnya. Sudah menjadi kewajiban pemegang hak cipta untuk melindungi hak-hak pengarang dari tindakan merusak karya ciptaan itu.
Tapi, ditilik lebih jauh, alasan sebetulnya penerbit dan pemilik hak cipta punya kepentingan kisah Doraemon tak boleh tamat. Sebab, dari situ kisah Doraemon bisa terus diceritakan berulang-ulang dalam beragam bentuk. Serial anime maupun filmnya terus diputar RCTi hingga kini. Selain itu, boneka, mainan, dan beragam benda berwujud Doraemon bisa terus dijual.
Jika ada yang tanya bagaimana Doraemon tamat, jawabnya, Doraemon takkan pernah tamat.***
BAHAN BACAAN:
Tentu, Wikipedia amat membantu penulusuran tentang Doraemon. Tapi, bukan info dari Wikipedia yang dijadikan pegangan utama, melainkan tautan yang menjadi acuan artikel di Wikipedia.
Tautan soal dounjinshi Doraemon edisi terjemahan Inggris-nya dimuat di situs koran Thailand The Nation.
Kisah hidup Fujiko F. Fujio saya baca dari komik biografisnya. Edisi terjemahannya baru terbit.
Ada banyak blog yang mengulas Doraemon tamat. Saya membacanya di sini. Bagi yang ingin membaca doujinshi ending Doraemon edisi terjemahan Indonesia bisa di baca di sini.

0 komentar:

Posting Komentar

Next Prev
▲Top▲